^Untuk Bu SFA di Sarikei … “

Standar

Tersebutlah seorang teman bloggerwati  … dari kota Sarikei, Serawak – Malaysia …. negeri jiran tetangga yang bernama SITI FATIMAH AHMAD – Seorang penulis,  tanpa buku yang mahu berkongsi ilmu penulisan kepada dunia dan tamadun manusia sejagat. 😉

Kata ‘tamadun ... awalnya membuat saya mikir lama, apa arti dan maknanya … ternyata kata Tamadun … dapat diatikan kepada ‘keadaan hidup bermasyarakat yang bertambah maju. (dari Wikipedia, ensiklopedia bebas).

b2d8252cabcfc690cb2c36224c2fb1fd

Ini penampakan dari  SITI FATIMAH AHMAD … alias Bu SFA … 🙂

***

Kemaren bu SFA menulis padakubegini katanya :  ketawa1

SITI FATIMAH AHMAD on Juli 23, 2015 pukul 6:55 am said : “Assalaamu’alaikum wr.wb, Soeman ….  Alhamdulillah, sedang melakukan puasa enam. Rindu rasanya mengakhiri Ramadhan, meraikan Syawal dan menyempurnakannya dengan puasa enam. Mudahan amalan kita diredhai Allah SWT. Aamiin … Salam syawal dari Sarikei, Sarawak. 🙂 

Waalaikumsalam Wr, Wb. … bu SFAbetull  sekali bu, InsyaAllah – saya lagi ‘puasa enam … namun pada hari ke-3, hatiku terkini lagi ‘bingung … bingung, sebingung-bingung-nya. Betapa tidak … seusai Ramadhan berlalu … datanglah hari Idul Fitri yang kita nanti … itu sekaligus pertanda Syawwal telah tiba. Kehadirannya disambut oleh suara Takbir yang tiada putus-putusnya. Pertanda Keagungan Tuhan Yang Maha Besar – Allahu Akbar Walillahilhamd … 

Bu SFA … namun dihari ke-5 ‘puasa enam … Syawwal menamparkumembuatku pusing 7keliling … 😦

Bu SFA … begini kisahnya …  Cartoons Myspace Comments

“Semalam … ketika mataku hampir terpejam, gelap diantara dua gelap. Lampu kamar yang rusak dan kelopak mata yang memberat. Tiba-tiba Syawwal datang menghampiriku, dia menyapa dengan suara serak memilukan. Karena mengantuk kujawab sapanya ala kadarnya.

puasa_syawal

Aku penasaran … kenapa suaranya serak pilu, sementara manusia diluaran berbahagia. Apa dia hanya berpura-pura mempermainanku. Kupelototkan bola mata untuk mengusir rasa kantuk dan penasaran. Ternyata dugaanku salah, paras Syawwal pucat pasi dengan beberapa tetes air mata yang menyisa di pipinya.

Kudekati dia, aku bertanya : 
” Kamu kenapa Wal, ada apa denganmu?”, Aku bernyanyi… images
“Aku sedang berduka, sedih sekali?” Suara Syawwal serak
“Ah kamu mengada-ada Syawwal, bagaimana bisa orang-orang bahagia dengan kedatanganmu, engkau malah bersedih?”, Kataku lirih …
“Aku benci orang-orang itu, termasuk kamu Ihsan!!”, Kata Syawal.
“Benci, ke aku juga?!”, Kataku pelan …
“Iya aku benci, benci”!!” Syawwal berteriak kencang sekali.

Kantukku hilang seketika … kuperbaiki posisi dudukku, aku membatin, ” Kelihatannya serius sekali apa yang terjadi pada Syawwal.”

“Ok Syawwal, sekarang biarkan aku mendengarkan masalahmu dengan kami. Maaf, denganku maksudnya.” Kataku

“Ihsan, jawab dengan jujur! Kenapa kamu bergembira dengan kedatanganku?”, ujar Syawal dengan nada kesal.

“Kehadiranmu adalah hari raya, hari kemenangan setelah kami berjuang bersama kawanmu Ramadhan.” Kataku

“Bohongg, bohongg, aku bukan hari kemenangan untuk kalian. Aku adalah hari pelampiasan untuk dosa yang kalian tahan selama bersama ramadhan.” Syawwal menunjuk-nunjuk.

“Syawwal, jangan ngelantur kamu. Buktikan omonganmu, kalau kamu ngawur, gak segan aku tendang kamu keluar dari kamar ini!” jawabku.

“Selama bersama Ramadhan alangkah baiknya kalian. Berbagai ketaatan kalian lakukan, berbagai dosa kalian jauhi. Setelah bersamaku kalian berubah, ketaatan kalian mengendor dan berbuat dosa menjadi semudah membalik telapak tangan!” Syawwal menumpahkan jeritan hatinya..

Aku diam menundukkan kepala.  Syawwal berkata : “Ihsann, jangan diam belagak bodoh. Jawabb!! Betulkan yang aku katakan?! Di mana tilawah, qiyamul lail, shadaqah, wirid, dan segala ketaatan saat engkau bersama ramadhan?

“Beda Syawwal, kita berbeda keadaan? Aku coba membela diri.

“Apanya yang beda? Apakah Allah yang engkau bersama Ramadhan Maha Melihat, sedang Allah yang engkau bersamaku buta? Apakah Ia yang engkau bersama ramadhan Maha mendengar, dan Ia yang engkau bersamaku menjadi tuli?” Syawwal terus mencecarku.

Aku yang tersudut masih menyela … Tapi syawwal, saat bersama Ramadhan kami memang terkondisi dengan ketaatan kepada Allah.”

“Alaaah, masih saja ngeles. Asal engkau tahu jika ketaatanmu amburadul saat bersamaku tidak seperti di bulan Ramadhan. Engkau sebenarnya gagal dalam jalinan bersama Ramadhan, atau engkau tidak paham dengan ayat la’allakum tattaqun-agar kalian bertaqwa?” Syawwal menggerutu

“Apa maksudmu Syawwal, jangan terus menyudutkanku!”

“Kamu betulan bodoh apa cuma pura-pura? Kebersamaan dengan Ramadhan ditujukan ‘agar’ kalian bertaqwa. Yaitu ketika Ramadhan telah berlalu kamu menjadi hamba yang bertaqwa saat bersamaku. Menjadi manusia yang berbakti kepada Allah. Lalu sekarang bercerminlah! Apakah engkau pantas meraih gelaran manusia bertaqwa setelah bersama Ramadhan, tidak khan?!”

Aku semakin menundukkan muka. Lidahku terkunci, aku sadar benar apa yang dikatakan Syawwal.
“Ihsan angkat mukamu!” Syawwal membentak
Aku dongakkan kepala, ” Plakk..plakk! Syawwal menamparku dua kali.
“Itu sebagai peringatan untukmu!” Sambungnya lagi.

Aku berusaha meraih tangannya … untuk meminta maaf, namun ia malah berbalik badan dan melompat keluar menerobos jendela malam.
“Syawwal … Syawwal … maafkan aku … maafkan aku … aku akan berubah!! Aku terus berteriak hingga suaraku habis dan jatuh terduduk kelelahan.

Apakah Syawwal … juga datang dan menampar kalian sebagaimana yang terjadi padaku? … “

***

Itulah kisahnya bu SFA … semoga kejadian yang sama tidak terjadi pada mu sekeluarga ya … 😉 … Kalau tidak kalian alami, itu pertanda Ramadhan dan Syawal-mu – se-iya sekata bersama-mu – kompak. Subhanallah.

Maha benar Engkau Ya Rabb … Ampunilah semua kesalahan-ku … hambamu ini terlampau ‘lemah dan bodoh. Karuniailah hamba tubuh yang kuat, otak yang cerdas-cendikia dan ilmu yang bermamfaat serta selamatkan hidup hamba dunia dan akhirat. Amin Allahumma Aminn ...

Bu SFA … itulah kisahnya dan maaf kalau ada salah2 kata … Salam sejahtera dari pinggiran  Jakarta Timur. 🙂  Wassalamua’laikum Wr Wb …A-Cover-2  Soeman Jaya

-o0o-

< ide post : ‘dari SMS via Blackbery dari teman yang meng-coppas dari ‘abu zubair ihsanul faruqiuu – Kediri … >

Jakarta, 24 Juli 2015

-o0o-

Iklan

8 responses »

  1. bukan hanya Syawal yang berduka, tapi Ramadhan juga, terutama ketika ada manusia yang memaknai Ramadhan hanyalah siang saja, siang mereka menahan malamnya nafsu dilampiaskan, bahkan sesungguhnya mereka tiada menahan kecuali sekedar menunda saja. Astaghfirulloh…
    Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang membuat Ramadhan dan Syawal berduka. amiin.

    • @ Nurudin :

      Salam kenal ya … terimakasih atas kunjungannya … 🙂

      Se7 sekali atas komentar yg ‘sahabat berikan dan semakin jelas ‘makna dan arti ‘Ramadhan dan Syawwal yg sesungguhnya bagi kita semua. Alhamdulillah – Wasyurillah.
      Iyaa … Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang membuat Ramadhan dan Syawal berduka. Amin Allahumma Amin …

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb, Soeman Jaya….

    Subhanallah walhamdulillah, terasa amat dihargai apabila ada tulisan khusus begini buat saya. Saya sangat senang membacanya dan berusaha memahami apa yang ingin disampaikan oleh Soeman di dalam posting ini. Terima kasih didahulukan atas apresiasi yang ditulis di atas. Semoga Allah menambah kebaikan dalam kehidupan Soeman dan keluarga di sana.

    Menurut saya setelah membaca dialog Syawal dan ihsan, terasa benar apa yang dikomentarkan oleh Syawal. Beliau (baca: Syawal) amat bersedih dengan perubahan yang berlaku kepada segelintir besar umat Islam yang gembiranya menyambut Hari Kemenangan bukan seperti yang dituntut agama.

    Jika kegembiraan meraikan kemenangan itu adalah berlandaskan ketakwaan dengan mengagungkan kebesaran Allah dan melihat banyaknya perubahan pada diri setelah mengalami proses pendidikan rohani selama 30 hari dengan berharap kesedaran berlapar akan meningkatkan rasa belas ihsan kepada golongan fakir miskin dan menjadi kukuh imannya setelah berlalu ramadhan, maka pasti Syawal akan turut berasa bahagia.

    Tetapi Syawal melihat sebaliknya sehingga beliau merasa sedih kerana gagalnya pendidikan Ramadan sehingga diperlihatkan kelalaian kita sehingga berlebih-lebihan dalam menyambut Syawal dan mungkin 11 bulan mendatang.

    Mudahan kita mengambil iktibar dari luaha hati Syawal dan mengoreksi diri untuk menjadi lebih baik dari semalam (Ramadhan). Dalam memasuki gerbang Syawal, rasa syukur dipanjatkan ke hadrat Ilahi dan berdoa agar Ramadhan yang ditinggalkan bisa dipertemukan Allah dengan Raamdhan yang mendatang. Aamiin.

    Semoga kita beroleh ganjaran berganda di sisi Allah apabila kita saling ingat mengingati atas kecuaian yang dilakukan. aamiin.

    Terima kasih sekali lagi Soeman atas pesan dan nasihat di atas. Ternyata ia bermanfaat dan mencerhakan hati agar tidak terbabas dari landasan Islam yang lurus. Mudahan Soeman dirahmati dan diberkati Allah.

    Salam Syawal yang mulia dari Sarikei, Sarawak. 🙂

    • @ SITI FATIMAH AHMAD :

      Waalaikumsalam Wr Wb … bu SFA …
      Amin Allahumma Aminn … itu yg pertama saya ucapkan ketika membaca ulasanmu …
      Kemudian, membaca uraian mu diatas saya sangat senang sekali … karena postingan ini ‘semakin bermakna … artinya semakin ‘jelas … dan menjadi ‘bernas … 🙂

      Tidak salah kata ‘winnymarch bahwa, ‘smbak Siti – humble ya kak soeman
      iya banget Winny – bu SFA memang ‘rendah hati … 😀

      Salam Syawal yang mulia pula dari pinggir timur Jakarta Timur … 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s